Perpustakaan Digital: Jelajah Buku Pada Genggaman

Selama ini perpustakaan selalu dikenal menjadi loka penyimpanan kitab-kitab. Segala jenis kitabtersedia di perpustakaan. Buku yg tersedia asal dari segala rumpun keilmuan. Mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat. Bahkan adapula kitabyang sifatnya hiburan seperti komik & buku cerita.

Umumnya, kitab-buku yang ada pada perpustakaan disusun di rak-rak atau etalase. Buku diatur secara rapi berdasarkarkan kode-kode tertentu. Tentu saja kode tersebut bukan hanya hiasan saja. Ada tujuan tertentu berdasarkan pengodean yg lazimnya ditempelkan pada sisi buku. Kode dibuat menurut penjabaran buku, pengarang, sampai dengan judul buku lalu lalu disusun secara urut. Semua itu demi memudahkan pembaca buat mencari buku yg diinginkan.

Kondisi di atas masuk akal ditemukan pada perpustakaan yg sifatnya konvensional & fisik. Artinya, pengunjung atau pembaca wajibtiba eksklusif ke perpustakaan buat mencari buku. Pembaca harus menentukan buku yang diinginkan secara eksklusif.

Berkeliling berdasarkan rak satu ke rak lain menemukan kitabyang akan dibaca. Mungkin kegiatan tersebut biasa ditemui beberapa tahun yg lalu. Sebagian orang masih menyukai sensasi berkeliling perpustakaan dan nuansa yang ada di sana. Tetapi, beberapa tahun terakhir hal tadi dianggap cukup membuat repot sebagian orang.

Di syarat sekarang yg semua dituntut serba cepat, beberapa orang memilih cara yang lebih praktis buat menikmati kitab. Sebisa mungkin kitabyg diinginkan dapat segera diperoleh tanpa harus dipusingkan menggunakan mencari di rak-rak perpustakaan. apabila perlu, pembaca nir perlu berkunjung ke perpustakaan secara pribadi buat memperoleh kitabyg diharapkan. Padahal, menggunakan model perpustakaan yang konvensional hal tersebut sulit dan hampir sulit dilakukan.

Pembaca yg menginginkan cara di atas tidak sedikit jumlahnya. Rata-rata tipe pembaca tadi didominasi sang pekerja dengan gerak kerja tinggi sebagai akibatnya tidak punya ketika buat sekadar berkunjung ke perpustakaan demi menikmati sebuah buku. Ada juga pembaca biasa yg ingin membaca kitabtertentu namun kesulitan karena jarak tempuh ke perpustakaan yang jauh. 

Merespons kebutuhan pembaca dan perkembangan zaman, lalu dikembangkanlah perpustakaan digital. Perpustakaan ini sifatnya virtual, bisa diakses di mana dan kapan saja. Pembaca nir perlu meluangkan ketika khusus buat datang ke perpustakaan. Layanan perpustakaan cukup diakses menggunakan perangkat elektronik misalnya personal komputer , laptop, juga gawai. Tentu saja sine qua non koneksi jaringan buat menikmati layanan yg tersedia. 

Koneksi internet dimaksudkan buat mengakses layanan perpustakaan yang sifatnya digital. Pembaca berdasarkan aneka macam belahan dunia bisa menikmati layanan pepustakaan, baik yang sifatnya perdeo maupun berbayar. Sambil duduk bersantai menikmati ketika luang, perpustakaan digital dapat dijelajahi secara leluasa. Bagi pembaca yang sulit meluangkan waktu, itu adalah kelebihan & gw taruk tersendiri.

Di tengah gerusan perkembangan zaman, tranformasi perpustakaan sangat penting. Jangan sampai, karena keterbatasan jeda dan waktu, perpustakaan hanya menjadi gudang buku. Tidak terjamah sang pembaca yg kesulitan lantaran 2 hal tadi. Beberapa pengelola perpustakaan agaknya tanggap dengan keadaan tersebut. 

Pengelola pepustakaan pada Indonesia mulai men-digitalisasi perpustakaan yang dimiliki. Tetapi, sayangnya semangat tersebut harus diimbangi menggunakan standar mutu yang baik. Faktanya, baru 6,2 persen perpustakaan yg sudah terakreditasi pada tahun 2021 dari jumlah keseluruhan perpustakaan yang ada di Indonesia sebesar 164.160. 

Rincian perpustakaan yg telah terakreditasi dari asal yg dikutip menurut perpusnas.go.id yaitu perpustakaan sekolah terakreditasi 8.288 perpustakaan, perpustakaan Perguruan Tinggi terakreditasi sebesar 676 perpustakaan, perpustakaan umum terakreditasi sebesar 1.105 perpustakaan & perpustakaan spesifik terakreditasi sebanyak 279 perpustakaan.

Kondisi tadi masih belum ideal dan merata serta memiliki kemungkinan buat menghambat proses digitalisasi perpustakaan. Oleh karena itu, syarat demikian wajibsegera dibenahi demi mewujudkan digitalisasi perpustakaan yang merata, khususnya pada tataran perguruan tinggi dan sekolah sehingga dapat menjadi acum pelajar pada mencari asal bacaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *